Corat coret Jakarta

Ini adalah cerita pengalaman kali pertama saya mbolang sendirian ke ibukota Indonesia ini. Sebelumnya, pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta ya waktu Study Excursie, :P . Dan kali ini saya datang ke kota ini bukan untuk tujuan yang sangat krusial, melainkan hanya untuk liburan. :D Semua-semuanya tentang pengalaman pertama saya ngapa-ngapain di tempat ini. Sedikit lebay mungkin, hehehe..

Rute KRL Jabodetabek

Saya berangkat ke Jakarta setelah menunaikan tugas di Depok. *sok penting* :D Dari Depok saya naik KRL dari Stasiun UI ke arah kalau ngga Stasiun Tanah Abang ya Stasiun Jakarta Kota, yang jelas KRL ini melewati Stasiun Sudirman –tempat dimana saya seharusnya berhenti. Ini pertama kalinya saya naik KRL, dapetnya yang gerbong paling belakang –yang ternyata dua gerbong di depen dan dua gerbong di belakang dari sebuah KRL adalah gerbong khusus wanita. :D Perjalanan Stasiun UI – Stasiun Sudirman memakan waktu sekitar 45-60 menit. Selama perjalanan, saya sesungguhnya galau, apa benar kereta tersebut akan langsung membawa saya ke Stasiun Sudirman ataukah saya harus oper dulu di Stasiun Manggarai? Jadi gara-garanya adalah saya lihat rute lama KRL yang tertempel di atas pintu kereta. Pada rute tersebut ada persimpangan di Manggarai, lurus ke arah Gambir atau belok kiri ke arah Tanah Abang –yang melewati Sudirman. Akhirnya setelah bertanya kanan-kiri, dan bertanya petugas, akhirnyta saya yakin saya tidak perlu turun di Manggarai untuk berganti kereta menuju Sudirman, tinggal duduk manis dan satu stasiun lagi saya sampai di Sudirman.

Bagi anda-anda yang mungkin (gampang) bingung dan galau seperti saya, ada baiknya melihat rute KRL Jabodetabek yang baru berikut, di print atau dicatet atau disimpen di hp kalau perlu. :D

Rute KRL
Rute KRL Jabodetabek

Sumber : http://livebeta.krl.co.id/images/stories/Peta%20Rute%20Loopline.jpg

Sesampainya di Stasiun Sudirman saya bingung, ini kenapa stasiun isinya cuman rel sama peron? Dimanaa dimanaa dimaanaa pintu keluar masuk stasiunnya? :hammer: Ternyata, terutama yang mengarah ke jalan besar Jend. Sudirman, pintu masuk/keluarnya ada di atas, jadi harus naik tangga dulu. *Bener-bener katrok* Okelah, yang penting.. Jekardaah.. I’m Coming.. :D

Akhirnya saya tahu seperti apa daerah Sudirman, tempatnya gedung-gedung tinggi, semacam jantung kota Jakarta *ya nggak sih* yang selalu rame sama orang-orang sibuk dan seringkali macet di jam pulang kantor –seperti ketika saya dalam perjalanan dengan metromini 640 menuju gedung BRI pusat.

No Pain, No Gain

Tujuan saya begitu sampai Jakarta adalah ke Gedung BRI Pusat di daerah Sudirman, menghampiri partner sebagai orang yang harus bertanggung jawab kalau sampai saya ilang di Jakarta :P dan Rina yang akan saya sambangi alias saya kunjungi alias tempat dimana saya akan menumpang menginap *repot amat bilang numpang -_-”*. Jadi karena hari itu adalah Jumat (23/12/11) yang merupakan hari kerja, dan yang pasti jam 4-5 mereka belum keluar kantor, makanya saya yang menghampiri kesana. Menurut tutorial dari partner, sekeluarnya saya dari Stasiun Sudirman saya harus menuju gedung BRI Pusat menggunakan Kopaja 19 atau Metromini 640 atau yang lain juga bisa, bilang turun di jembatan penyeberangan BRI. Karena tepat di depan stasiun di trotoarnya ada semacam pagar pembatas untuk menuju jalan raya, maka saya berjalan ke arah kiri mencari ujung pagar tersebut sambil menunggu sang Kopaja atau Metromini. Namun, semakin saya berjalan, ketika saya mau menghentikan sebuah kopaja, tiba-tiba saya melihat di depan ada jembatan penyeberangan dan tepat di seberang jalan ada gedung BRI. Langsung saya percepat langkah saya, menyeberangi jembatan dan muncul keraguraguan akan kebenaran gedung BRI yang saya tuju.

Setelah tepar jalan kaki, dan mencium aroma-aroma salah gedung, saya putuskan untuk istirahat di masjid belakang gedung. Sebelumnya saya sudah sempat salah bertanya pada orang mengenai kebenaran gedung yang saya maksudkan, meskipun hampis yakin kalau salah, saya putuskan untuk terus berjalan ke arah belakang gedung untuk menuju masjid. FYI, hari itu sedari pagi saya sudah berjalan kaki kemana-mana dengan menggendong tas ransel dan membawa satu tas kertas jinjing *apalah namanya* plus footwear yang terlalu cantik (dan kebesaran) untuk digunakan berjalan kaki jarak jauh. Akhirnya, sembari numpang istirahat di masjid, numpang charge baterai HP, saya ndlahom memandangi gedung di depan masjid tersebut dan masih berharap saya tidak salah gedung. Namun takdir berkata lain *halah*. Menurut obrolan saya di telepon bersama –siapa lagi kalau bukan si– partner nampaknya positif saya salah gedung. Huow..artinya, saya harus kembali menyeberangi jembatan penyeberangan di depan gedung tersebut, lalu melanjutkan perjalanan dengan mencari metromini. *Intinya, saya kurang ke arah selatan lagi*

Singkat cerita, walau baterai HP belum penuh, dan kaki masih kaku semua, saya paksakan untuk bangkit dari masjid dan kembali berjalan ke arah depan gedung. Baru berjalan 50 meter sudah terasa kaki saya kram. >.< *Udah gitu bukannya ganti sendal malah tetep kekeuh pake sepatu pantofel kegedean yang terlalu cantik itu* Saya mulai tidak peduli, saya harus berjuang, tidak boleh menyerah. *pasang iket kepala*

Sampai di depan gedung saya bertanya kepada bapak-bapak mengenai letak gedung BRI pusat yang saya maksud, katanya memang kurang ke arah selatan, walau bapaknya agak ragu-ragu. Akhirnya, saya berjalan menaiki jembatan penyeberangan dan kembali menyeberangi jalan untuk mencari kopaja 19/metromini 640. Saya sempat bertanya lagi pada polantas yang ada disana, ternyata memang benar, saya kurang ke selatan. Akhirnya begitu ada metromini 640 langsung saja saya melompat ke dalamnya dan berniat turun di Atmajaya sepertisaran pak polisi.

Saya tidak tahu Atmajaya itu sebelah mana, saya sudah bilang kepada kenek metromini, tapi nampaknya beliau tidak terlalu menggubris. Akhirnya, takut terlewat, sepanjang perjalanan saya mengintip dari kaca sebelah kanan, mencari dua gedung besar bertuliskan BRI. Dan setelah bermacet-macet ria dengan metromini, sampailah saya di depan gedung BRI Pusat. *Ngepel keringet* Dan ternyata tempat saya turun dengan tangga naik jembatan penyeberangan jaraknya lumayan. Padahal tadinya sempet berenti lumayan lama si metromini di depan tangga naik itu, tapi karena saya tidak tahu kalau itu jembatan penyeberangan menuju gedung BRI pusat, makanya saya tidak turun. Walhasil bolak balik saya jadinya -_-”.

Akhirnya, dengan sisa tenaga, demi keburu sore dan kasian si partner dan Rina yang uda nungguin, saya bergegas ngebut menyusuri jembatan. Dan begitu turun, langsung disambut oleh.. taraaaa… Manusia keren yang sedang makan pentol B-) *dah gitu gak bagi2 lagi pentol nya* X( Dan akhirnya saya menguntit (mengikuti, red) dia menuju plataran gedung BRI pusat tersebut untuk bertemu dengan Rina. *yay* Akhirnya berakhir sudah penyasaran ini. :D Setelah bersusah payah memaksa kaki untuk berjalan lebih jauh dari biasanya, dan tekad yang lebih kuat dari baja (mengutip 5 cm, red) *halah* akhirnya pencarian selesai. Tapi, saya terlalu cepat gembira, karena ternyata kos Rina berada di belakang gedung BRI –yang harus berjalan juga sekitar mungkin hampir 1 km. Oke, tak apa, biar sekalian teparnya. :D

Dan sore itu atmosfir jekardah benar-benar terasa, gedung-gedung tinggi, jalanan yang nampak sibuk, orang-orang yang juga disibukkan oleh aktifitasnya masing-masing, aroma knalpot dan macet. Sayang sekali tiga hari disana saya tidak sempat mengabadikan pemandangan dari jembatan penyeberangan lantaran memory HP saya sudah penuh. Next time lah, insya Allah dalam acara mbolang  lainnya di ibukota Indonesia ini. :D

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s