Jakarta Coret – Welcome Party

Ah, saking galaunya saya akhir-akhir ini, sampai ngga sempet nulis-nulis, padahal banyak yang mau diceritakan. Mbuka sosnet itu mengindikasi munculnya kegalauan, jadi saya sarankan jika anda galau lebih baik jangan membuka sosnet, apalagi update status. Bukan tambah lega tapi saya jamin malah tambah galau, *pengalaman pribadi*. Yasuda, akhirnya untuk memanfaatkan koneksi internet, untuk mengobati kegalauan saya akan berbagi sedikit cerita saja. Seperti biasa, just another random story. :P

Sudah seminggu lebih saya berada jauh dari rumah (ketika draft ini di post, sudah dua minggu lebih tepatnya), jauh dari Surabaya. Sekarang tepatnya sedang berada di Bandung, yaitu di Leuwigajah Permai – Cimahi, tapi yang akan saya ceritakan adalah cerita beberapa waktu lalu, ketika saya berada di Depok. Karena ada suatu kepentingan dengan Depok, terutama dengan universitas negeri beralmamater kuning yang terkenal di kota ini, yaitu Universitas Indonesia, saya harus pergi sementara waktu meninggalkan rumah dan kos. Hanya sekitar tiga hari saya disini, tapi lumayan banyak cerita mulai dari kesan pertama menginjakkan kaki, hingga hari terakhir ketika mau bertolak kembali ke Bandung. Banyak yang bilang daerah sekitar Jakarta (BoDeTaBek) itu ya Jakarta, tapi belakangan saya ketahui banyak yang protes dengan anggapan itu. Jadi saya juga tidak akan menganggap Depok ini sama dengan Jakarta, alias Jakarta << How do you read this? Jakarta coret? Okelah apapun. :D

- Bersama si Biru MGI

Perjalanan saya ke Depok dari Bandung menggunakan bus antar kota eksekutif jurusan Bandung-Depok yaitu bus MGI yang sepanjang perjalanannya melewati jalan tol Cipularang dan Cikunir kalau tidak salah, jadi bus ini tidak berhenti di sembarang tempat seperti kalau saya ingin pulang naik bus dari Surabaya ke Tulungagung atau sebaliknya. Bus MGI ini memiliki banyak rute selain bandung-Depok, ada yang Bandung-Cibinong, dan beberapa lainnya –yang saya tidak tahu. Naik bus ini lebih mudah walau sedikit mahal dibandingkan naik bus ekonomi yang kemungkinan –menurut cerita– harus ganti bus di terminal Kampung Rambutan dulu dan ganti bus lain. Bus ini berwarna biru dan biayanya IDR 45.000 untuk jurusan Bandung-Depok. Dari Bandung berangkatnya (kalau tidak salah) dari terminal Leuwipanjang. Bus ini beroperasi setiap satu jam sekali mulai pukul 06.00. Jadi jika tidak ingin lama menunggu sebaiknya perhatikan baik-baik jadwal keberangkatan.

Bus MGI

Bus MGI

Sumber : http://1.bp.blogspot.com/–pLBsoWOD7o/TkCm8rddjLI/AAAAAAAAACQ/bMl7h-AHIXw/s1600/MGI_Bandung-Bogor_Executive-AC.jpg

Sepanjang jalan tol ini pemandangannya jelek alias bagus sekali. Terutama ketika masih di tanah Bandung. Kanan kiri bukit, kalau ngga gitu ada pemandangan jembatan rel kereta di antara dua bukit yang panjangnya kurang lebih 1 km, kebun teh, bukit yang dikeruk, juga beberapa tebing. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam kalau lancar jaya, mungkin sedikit macet ketika sudah sampai di Bekasi. Dan FYI, saya baru ngeh kalau Bandung itu letaknya di tenggara kota Jakarta, sebelumnya saya kira Bandung lurus di selatan Jakarta. Maka dari itu saya sempat kaget ketika dalam perjalanan dari Bandung menuju Depok, ketika di bus terbangun dari tidur dan membaca tulisan Bekasi, saya kira sudah kelewat Depoknya, Depok kan selatannya Jakarta, Bekasi itu timurnya. Tapi ternyata akan ada semacam pertigaan yang kalau lurus ke arah Jakarta, kalau belok kiri ke jurusan lingkar luar Jakarta, salah satunya untuk menuju Depok ini.

Masuk kota Depok, bus ini akan lewat salah satu sisi kampus kuning alias UI ini, dan melalui satu jalan raya besar di Depok, yaitu Margonda Raya –yang katanya ini satu2nya jalan besar di kota Depok (masa?). Di sepanjang jalan ini ada Margo City dan Detos, juga ada ITC kalau ngga salah googling :D .

- Saya rindu dengan kampus saya

Itulah yang saya rasakan ketika baru saja sampai di halte Stasiun UI. Perjalanan saya seturunnya dari bus MGI adalah ke gang Kober, untuk mengunjungi kerabat bupuh (budhe, red) saya. Gang Kober ini masih berada di pinggiran jalan Margonda Raya, yang mana UI berada di sisi belakang jalanan ini. FYI, perjalanan saya ke Depok ini tidak sendirian, tapi diantar oleh bupuh saya. :D

Keluar gang Kober kami menyeberangi jalan Margonda Raya dan masuk ke gang kecil menuju stasiun UI. Stasiun ini tempat berhentinya KRL-KRL yang beroperasi di area JaBoDeTaBek. Gang kecil menuju stasiun ini dari jalanan Margonda Raya dihiasi oleh penjual-penjual di sisi-sisi gang, jadi kaya masuk ke gang pasar gitu, kanan-kiri penjual makanan, minuman, stationary, atau pernik-pernik macem-macem. Keluar gang langsung disuguhi pemandangan rel kereta api, dengan menyeberang rel, naik ke peron stasiun UI, keluar stasiun, sampailah kita pada salah satu sisi UI. Dari sini lalu kami menuju halte stasiun UI di sisi kiri stasiun. Rencananya kami akan bertemu dengan Mas Fahim (senior saya di TC ITS, red) disini untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke asrama UI –yang telah melalui perundingan ini-itu sebelumnya. Akhirnya saya dan bupuh duduk-duduk di halte ini sambil mengamati sekitar.

Di depan halte yang ada adalah pemandangan jalan raya kampus UI yang di seberangnya adalah hutan menuju area kampus UI. Rasanya adem, sejuk dan menyenangkan pada awalnya. Melihat lalu lalang orang-orang di sekitar halte kemudian membuat saya menjadi sedikit rindu dengan kampus perjuangan, tepatnya dengan suasana kampus teknik –TC. :D Mbak-mbak –atau mungkin lebih tepatnya dibilang adek-adek– yang lewat tidak seperti mahasiswi pada umumnya yang sering saya lihat. Baju atasan yang tidak sekedar hem atau kaos warna senada dan kalem, sepatu yang tidak sekedar flat shoes atau keds, wajah yang tidak sekedar tampak sudah mandi. *silahkan tertawa* :D . Rasanya saya terdampar entah dimana, hahahha. Semacam banyak sodara 7 icons, cherrybelle, jkt48 dan semacamnya disini. :P Tapi lama-lama saya suka memperhatikan gaya mereka memadumadankan busana. :D

Namun akhirnya kerinduan saya pada kampus perjuangan saya, ITS Surabaya sedikit saya tepiskan. Saya coba lihat sisi tidak biasa seperti yang sering saya lihat di kampus perjuangan dengan cara yang berbeda. Bukan pada orang-orang yang saya temui –karena sudah pasti lain lumbung lain ikannya– tapi pada budaya yang ada disini. Tiba-tiba menjadi satu pemandangan yang menarik melihat para mahasiswa(i) menunggu bis kuning alias Bikun di halte stasiun UI ini. Kampus UI Depok yang sangat luas dan berhutan-hutan yang sangat menguras keringat jika ditempuh dengan berjalan kaki. Bis kuning yang sudah menjadi icon kampus ini mempermudah transportasi bagi warga UI dan sekitarnya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain di area kampus UI. Menyenangkan karena banyak sekali mahasiswa yang menggunakan sarana transportasi ini. Jumlah mahasiswa luar kota atau luar pulau yang kuliah di kampus ini yang membawa kendaraan pribadi nampaknya tidak terlalu menjamur, parkiran-parkiran juga nampaknya tidak terlalu penuh. Keren sekali kalau sarana transportasi umum seperti ini diminati banyak orang. Mungkin karena selain ramah lingkungan, bikun ini juga ramah di kantong karena ternyata gratis naik bikun ini. *so swit* *terharu* :D

Yang baru saya tau adanya fasilitas peminjaman sepeda –kuning– bagi mahasiswa/(mungkin)karyawan  UI, yang ada beberapa stasiun peminjamannya. Peminjaman dilayani dengan menunjukkan KTM, dilayani setiap hari senin-jumat jam 08.00-17.00 (cmiww) yang bisa dipinjam-kembalikan tidak harus pada stasiun peminjaman sepeda yang sama. Di kampus ini sudah ada semacam trotoar khusus untuk pengendara sepeda, namun nampaknya selama kurang lebih satu jam saya duduk-duduk di halte stasiun UI ini tak begitu banyak yang meminjam sepeda, mungkin karena keburu hujan juga. Tapi ini baru pertama kali saya tau ada fasilitas seperti ini, :P hehehe.

Kesan pertama menginjakkan kaki dan bertemu dengan mahasiswa-mahasiswi yang lalu lalang adalah : saya yang sudah S.Kom masih merasa seumuran dengan mereka, malah nampaknya mereka lebih berumur daripada saya. *sudah terbukti ada yang membantah mentah-mentah* :D

Demikian penggalan cerita sambutan dari kampus kuning di kali pertama saya menginjakkan kaki di sini. Selanjutnya ada cerita lain tentang kuning yang lain. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s