Saya merasa agak kesulitan menulis kali ini, mohon maaf kalau tulisannya semacam membosankan. Otak sedikit awut-awutan nih.
Bagian ini lanjutan cerita dari sini
Pada cerita sebelumnya, (kaya film aja
) saya sudah berhasil sampai di halte MUI dengan selamat dan masih banyak waktu sebelum tes. Saya sampai sana sekitar jam 09.30. Masih cukup buat cek ruangan tes dan sedikit istirahat. Sesampainya di gedung Fasilkom, ternyata pada waktu itu sedang ada acara Open House Fasilkom UI, banyak mahasiswa(i) ber-jas Kuning menyambut para tamu. Sempat berpikiran mampir ke acara itu sebenernya, tapi ah, sudahlah nanti saja. Setelah tahu dimana ruangan tesnya, saya hubungi Hisyam, sodara seperjuangan tes Beasiswa MIK UI RA/TA 2011/2012 Term 2 *lengkap sekali, teringat bu Di, jadi kangen bu Di, ibuuuukkkk T_T*, ternyata dia juga sudah hadir, tapi lewat sebelah belakang gedung. Sodara seperjuangan bernama Hisyam ini yang menjadi partner mbolang –sebelum waktunya– saya kali ini.
*Diasaat saya sedang kangen kubi, pada saat yang bersamaan saya chat dengan sodara Ngengngong ‘ngobrolin’ kubi*
Dan pada hari yang sama (13/12/11), ternyata pemateri di orientasi kanpus temen-temen PPS BRI bernama “you know who”. Persis sama ejaan dan tulisannya, hanya saja bukan materi t*-id* yang dibawakan, tapi materi kredit.
hehe
Akhirnya setelah bertemu Hisyam, ngobrol2 sejenak, lalu kami menuju ruang tes. Seperti apa tesnya? Seperti tes toefl. Dari sini saya meng-amini tweet mas Ibnu yang menjelaskan mengapa nilai TOEFL nya harus 550. Harus punya kemampuan Bahasa Inggris yang bagus lah yang jelas. Dan menurut informasi yang saya terima dari Mas Fahim, di UI ini semuanya pakai Bahasa Inggris S2 nya, eh entah S2 aja atau semua CMIIW. Dan saya menghela napas panjang. Soal tesnya beberapa diambil dari GRE (Graduate Record Examination) ETS –silakan googling. Beberapa lainnya saya kurang tahu, yang jelas tertera di bagian akhir soal darimana soal-soal tersebut. Jauh dari perkiraan saya, speechless enough.
Usai tes yang memakan waktu sekitar 2 jam, saya dan Hisyam keluar dari gedung tes, dan ada kejadian random pada saya. Kenapa saya selalu melakukan hal aneh-aneh ini? T__T
Ceritanya tesnya itu di ruangan ber AC, walau sudah pas dapet posisi yang ngga terkena AC langsung, tapi saya tetep kedinginan. Akhirnya selesai tes pengen ke kamar mandi. Tesnya berada di lantai 2, di dekat tangga menuju lantai 2 terdapat kamar mandi. Tadinya sebelum tes pas lagi ngecek ruangan saya pengen kesana, tapi saya urungkan, soalnya saya ragu-ragu dengan isi dalamnya, masa langsung masuk, ngga ada pintu gitu. Akhirnya setelah tes saya kesana, langsung masuk dengan tolah toleh. Dan dari belakang ada yang memanggil. Saya menoleh, ada wajah semacam nyengir dan malu dan sedikit sungkan. Katanya, “Ehm, toilet cewek sebelah sini” sambil menunjuk ke arah pintu di sebelah kanannya –yang karena bertuliskan staff only saya jadi engga kepikiran buat kesana, saya pikir itu ruangan apa gitu. Saya ngga sadar kalau di atas tulisan staff only ada gambar kepala wanita. *pake helm, kabur kenceng*. Uwaaa, rasanyaa.. Untung aja itu pas hari Sabtu, ngga banyak yang berkeliaran di kampus. Dan Hisyam hanya berekspresi seadanya. Uwaa, untung belum sampe masuk ke dalam-dalam sana. >.< *Lupa engga sempet memfoto itu pintu ajaib
*
Selesai dengan adegan “mengesankan” saya dan Hisyam keluar gedung mencari udara segar, dan kami memutuskan untuk mencari lokasi tes untuk keesokan ahrinya. Sebenarnya ini saya yang pengen tau, Hisyam sudah lebih dulu survey tempat, karena saya belum tahu, dia bersedia menemani saya pergi mencari tempat tes nya. Karena menurut informasi si Bikun hanya beroperasi sampai jam 1 kalau hari Sabtu, dan waktu itu sudah sekitar jam setengah 1, akhirnya kami putuskan untuk menunggu bikun dulu, cari tempat tes baru sholat Dhuhur. Dan ternyata hampir 20 menit menunggu di halte MUI, si bikun tidak nongol-nongol. Sekali dua kali ada, tapi ngga berhenti. Bis nya kosong. Satu per satu anak-anak yang juga berada di halte menanyai…… saya. Perihal mengapa bisnya engga berhenti, perihal nanti pasti ada bis lagi kan, dan sebagainya. Sodara-sodara, sesungguhnya saya juga engga tau. Saya juga hanya menunggu terus ini. Akhirnya saya dan Hisyam memutuskan untuk sholat aja. Inilah hasil dari menunda-nunda sholat, urusan lain juga jadi tertunda. Asatghfirullah..
Sholat di MUI membuat saya lagi-lagi rindu dengan kampus ITS, lebih tepatnya tiba-tiba teringat dengan MMI di ITS. yang membuat hampir sama adalah letak tempat sholat untuk wanita yang berada di lantai dua dan yang pria di lantai satu, tapi nampaknya tidak terlalu besar masjid ini. Tapi tempatnya nyaman. Seperti biasa “adem” rasanya. Dan selanjutnya satu lagi masjid kampus yang ingin saya kunjungi, Masjid Salman ITB. InsyaAllah…
Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/a9/Masjid_UI.jpg
- Mbolang Sebelum Waktunya (lagi)
Selesai sholat Dhuhur, kami kembali ke halte depan masjid. Sebenarnya saya menawarkan untuk membatalkan pencarian lokasi tes ini, karena takut kalau bikunnya ngga ada, nanti balik ke tempat menginap masing-masingnya gimana, pikir saya. Tapi Hisyam kasihan kalau saya ngga tahu tempat tesnya. Bener juga, kalau ngga hari itu juga, masa besoknya saya mau mencari-cari, sedangkan keesokan hari tesnya jam 7 pagi.
Akhirnya kami kembali menunggu bikun. Mungkin setelah sekita 10 menit ada bikun yang lewat. Bikun tersebut saya lupa bertanda merah atau biru, yang jelas melaju meninggalkan halte MUI, menuju halte FH lalu halte stasiun UI (rute bikun dapat dilihat di post sebelumnya). Dan dari sini saya curiga kita naik bus ke arah yang salah. Bukan curiga lagi, tapi yakin, karena bus ini bukan bus berangkat yang akan mengitari UI, tapi bus pulang, menuju asrama UI. Yak, semakin jauh dengan fakultas Teknik. Kami terlambat turun di stasiun UI, pintu bikun sudah ditutup, akhirnya kami mengikuti laju bikun hingga sampai ke stasiun Gerbatama (Stasiun terakhir sebelum ke asrama). Akhirnya kami turun disana, kembali menanti bikun di halte Gerbatama. -.-”
Tidak lama ternyata ada bikun lewat, alhamdulillah, setidaknya jalan pulang Hisyam tidak semakin jauh, saya semakin sungkan suda merepotii.. >.< Kita melaju menaiki bikun –yang ternyta bertanda Merah– dari stasiun Gerbatama, stasiun UI, lalu…. halte FH. *Lhoh kok bukan belok ke halte FIB seperti ketika saya berangkat tes pagi hari itu* dan otomatis setelah halte FH adalah halte MUI. Ngg.. Jadi kalau dari asrama saya mau ke Fasilkom lewat MUI, saya cukup lewat 3 halte, Gerbatama-Stasiun UI-FH lalu sampai. Tapi ketika saya berangkat? saya harus berputar tour de UI pagi-pagi. Hm, yak.. benar-benar mbolang sebelum waktunya (part 2). Jadi ketika pada pagi hari saya sempat berbahagia karena datang ontime, sesungguhnya tidak lebih membahagiakan ketika tahu saya tidak perlu berputar-putar dahulu. Ah, tapi memang harus seperti itu, kalau tidak begitu, jadi tidak tahu.
Okelah, perjalanan dilanjutkan.
Ternyata lokasi tes di Fakultas Teknik itu lumayan jauh –kalau naik bikun merah–. Lagi-lagi salah naik bikun. Jadi seharian bikun yang saya naiki bukan bikun yang teroptimasi *halah*. Tapi setidaknya tidak salah arah. Okelah, sedikit jauh tak apa. Setelah melewati bayak halte, akhirnya kami sampai di halte FT. Fakultas teknik, bentuk halaman depannya sekilas mengingatkan saya pada rektorat ITS, ada kolam di depannya (cmiiw), hanya lebih rimbun di kanan-kiri. Letak gedung tesnya (Gedung S2 pascasarjana) di sebelah kanan gedung dekanat. Hanya saja karena hari itu hari Sabtu, jadi kami tidak bisa masuk ke dalam untuk survey ruangan. Akhirnya setelah mengetahui gedungnya, kami kembali ke halte dengan doa semoga masih ada bikun. Setelah pencarian gedung, kami berencana kembali ke tempat kos masing-masing. Dari halte FT untuk menuju asrama saya harus naik bikun ke arah kanan, sedangkan Hisyam yang kos di daerah Pondok Cina harus naik bikun ke arah sebaliknya. Jam sudah menunjukkan pukul 2. Beberapa menit menunggu, terlihat bikun dari arah kiri yang merupakan bikun menuju asrama, kemudian saya pergi meninggalkan Hisyam sambil berdoa semoga masih ada bikun ke arah sebaliknya. Waa, saya merasa jahat sekali meninggalkan Hisyam, padahal uda diantarkan berputar-putar.
Dan teryata benar, sepanjang jalan menuju asrama saya tidak bertemu dengan bikun dengan arah berkebalikan. Satupun tidak ada. *Gawat*. Dan ketika sudah mau sampai di asrama, ada anak yang bertanya kepada supir bikun letak halte apa gitu *lupa*, pak supir berkata kalau dari asrama sudah tidak ada lagi bikun yang berangkat dan bikun yang saya naiki tersebut adalah bikun terakhir. *Gawat kuadrat* Akhirnya saya langsung menanyakan kepada Hisyam apakah sudah ada bikun lewat apa belum, ternyata masih belum ada. Akhirnya saya sarankan kepada Hisyam untuk naik ojek yang banyak ditemui di depan halte FT tersebut. Dan ternyata setelah saya konfirmasi lagi, Hisyam mengaku berjalan kaki dari halte FT menuju daerah Pondok Cina –yang katanya melewati lima fakultas. Huaa, maapkan saya Hisyam.. T___T Lima fakultas di UI itu jauh untuk ukuran jalan kaki. >.<
Dan pelajaran yang dapat saya petik hari itu adalah, jangan terlalu cepat puas, jangan terlalu cepat senang. Masih banyak yang harus digali, harus diketahui. Hehehehe
*Tanpa saya sadari keesokan harinya lagi-lagi saya terlalu dini untuk sekedar senang, sekedar puas. Disini lanjutannya.


ckckck… salah apa hisyam padamu, sampe kamu berbuat setega itu.. hiks2… lol
T__T